Bangsa yang Hebat terdiri dari Keluarga yang Hebat

Be Sociable, Share!

Hari minggu yang tenang ini, mari kita luangkan waktu sejenak untuk merenungkan perubahan apa yang perlu kita lakukan, dan apa yang masih belum kita lakukan.

Hidup sangatlah penting, dan waktu sangat berharga. Jangan sia-siakan di mana Anda dapat membuat suatu perubahan, ataupun pembelajaran yang dapat berguna kapan saja di mana saja.

Berikut ada satu kejadian yang di sharing oleh Bapak Indra melalui Komunitas Sales Indonesia, tempat berkumpulnya para sales dari segala bidang dan penjuru tanah air. Mari kita coba renungkan kejadian berikut ini dan jadikan sebagai panduan dan pelajaran bagi kita semua.

Langkah kaki-ku bergerak menuju sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar namun cukup banyak pengunjung, maklum hari ini week end. Nampak di depan beberapa tukang jajan asongan ikut memburu rezeki di depan rumah makan tersebut.

Seorang anak kecil sekitar 10 tahun dengan membawa dagangan ketan uli serta tapeberjalan bergegas menghampiriku, dengan gaya sales profesional  ia menyapaku : ‘Siang Om, ketan uli dan tapenya. Enak lo buatan Ibu saya,“ tapi aku tidak terlau memperdulikan, hanya senyum terlontar. “maaf de tidak, saya mau makan saja.” Bocah itu tertegun sejenak menatap-ku : “bisa dibawa pulang Om, dijamin masih enak.” Aku tetap menggelengkan kepala. Dan terlihat bocah tersebut segera meninggalkan-ku sambi berkata : “terima kasih om, selamat makan.”

Nyesss hati aku seperti disiram air gunung di siang hari yang panas. Mendengar sapaan penutup bocah tersebut. Saya jadi berpikir membandingkannya dengan sosok manusia dewasa yang banyak terjadi di luar sana, ketika kecewa dagangannya tidak direspon ia langsung memasang muka masam, tanpa pernah mengucap terima kasih. Bocah tadi sungguh beda.

Sampai ketika makan siang, selintas saya melihat kesibukan dia menawarkan dagangannya, tidak telihat sedikitpun ia lelah. Bahkan mungkin belum makan sampai siang hari begini. “Ah Tuhan terima kasih atas nikmat yang telah engkau berikan kepada kami beserta keluarga yang masih bisa makan tepat waktu dan dapat dengan mudah memilih makan dimana? “

Naluri seorang Ayah saya terpanggil untuk megetahui lebih lanjut bocah itu : “De sini,” dengan melambaikan tangan saya memanggil dia.” Tampak ia ragu dan memandang terus ke saya. “sini, hayo…”sambi saya ulang lambaian tangan ke arah-nya.

Bocah kecil itu menghampiri-ku sambil tak lupa menitipkan dahulu dagangannya kepada rekan-nya yang terlihat lebih besar dari dia. Dalam hati saya pun bertambah kagum kembali dengan perilaku dia, karena memang jelas terpampang di depan rumah makan tersebut, “ Pedagang dilarang membawa dagangannya ke dalam” Dan nampaknya semua pedagang asongan tersebut sudah paham aturan yang berlaku, termauk bocah kecil tersebut.`

“kamu usia berapa. Namamu siapa?” tanya-ku. “10 tahun Om, nama aku Ali, kenapa?” balas tanya

“Tidak apa-2 Om Cuma bangga tadi melihat sikap kamu menawarkan dagangan, siapa yang membuat ketan uli-nya?” aku kembali bertanya. “Ibu saya Om, Ibu membuat kue ini untuk biaya sekolah saya.”

“Tiap hari kah kamu jualan? Atau hanya hari minggu saja?” terlihat bocah itu diam sejenak. “tiap hari Om, kalau bukan hari minggu saya jualan setelah habis sekolah sampai sore. Tapi kalau hari minggu bisa dari pagi Om. Kata Ibu kita harus bekerja bekerja keras dan hasilnya buat uang sekolah saya om” Aku sejenak menawarkan minum dan makan, tapi ia menolaknya, sambil berkata : “Ibu pesan kepada         Ali untuk tidak mudah menerima pemberian orang yang belum kita kenal.”

Tambah lagi kekagumanku kepada Ali serta didikan Ibunya, aku membandingkan dengan keadaan kehidupan nyata di jalan, dengan semakin bertambahnya para pengemis memasuki jabodetabek ini untuk mencari nafkah. Aku harus melakukan sesuatu untuk Ali.

“Ali, om sudah kenyang nih. Ini buat kamu, anggap saja sebagai sedekah” Aku mengambil 1 lembar 50.000-an. Sejenak Ali tertegun dan menatap mata saya. “terima kasih om” sambil bergegas meninggalkan aku menuju seorang pengemis tua agak jauh di depan rumah makan. “aku sempat memanggil dia kembali, hai kenapa dikasih dia”

Tak lama si Ali sudah kembali lagi ke tempat duduk saya “Terima kasih om, uang itu sudah saya kasih pengemis itu, om bilang kan buat sedekah. Ibu berpesan kepada Alu untuk tidak menerima uang selain dari hasil dagangan ini Om. Ibu akan marah kalau Ali menerima uang ini. Ali tidak ingin melanggar pesan ibu.”

Nyess untuk kedua kalinya saya seperti disiram air digurun pasir, segar menyegarkan. “Baik Ali kalau begitu Om beli semua dagangan kamu ya.” Sekelebat wajah ceria menghiasi Ali, dia nampak semangat menerima order saya. “ Terima kasih Om, nanti ya kuenya saya kasih di luar, kalau di sini tidak aturannya.” Aku hanya terpaku terus melihat wajah si Ali, dalam hari berkata : “Ya Allah semoga Engkau beri anak-anak kami semangat dan keteguhan hati dalam menjalankan amanah seperti si Ali”

“Terima kasih Ali.” Bocah itu hanya terdiam bengong tidak mengerti tiba-tiba saya memegang kepalanya dan mengusap rambut di kepalanya. “Terima kasih kamu telah memberi pelajaran kepada Om tentang bagaimana hidup dan kehidupan. Salam saya untuk ibu di rumah”

Happy Prospek, Happy Result

Article by “Indra Master” through Komunitas Sales Indonesia (KOMISI)

Selamat menikmati akhir Pekan

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *