Category Archives: Management

Kisah Uniqlo Menghadapi Kegagalan

Kisah Uniqlo Menghadapi Kegagalan

“I understand Failure Completely”, says Uniqlo Founder – Tadashi Yanai.

Article by Lua Jiamin, Channel News Asia. Translated dan Rewrite by Andi Wu. source: www.channelnewsasia.com

Orang-orang mungkin tidak mengetahui kegagalan seorang CEO dan Founder dari perusahaan Retail Pakaian terbesar di Asia. Tetapi, Tadashi Yanai yang juga merupakan orang terkaya di Jepang, meyakinkan kita bahwa beliau sangat mengenal kegagalan yang dialaminya.

“I understand Failure Completely” kata Mr Yanai yang memiliki perusahaan “Fast Retailing” di mana adalah induk dari merek Uniqlo.

Ketika Uniqlo melebarkan sayapnya keluar negri, mereka gagal di Inggris. Mereka gagal di China. Merekapun gagal di Amerika.

Perusahaan retail pakaian terbesar ini memasuki pasar Inggris di 2001, membuka 21 gerai dalam masa 2 tahun. Namun perusahaan ini membesar terlalu cepat sehingga terjadi kesalahan manajemen yang akhirnya mengharuskan Uniqlo menutup 16 gerainya. Ini adalah salah satu kegagalan yang besar bagi mereka.

Tetapi, bagi seorang pendiri Uniqlo berwarganegara Jepang, 67 tahun; yang memulai dari sebuah toko sederhana pada tahun 1984 sehingga menjadi perusahaan retail pakaian 4 besar di dunia ini; kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya.

Namun baginya, inti dari perjalanan bisnis adalah mengejar Medali Emas. Beliau memiliki filosofi hidup: “nine failures, one success” – Sembilan Kegagalan, SATU Kesuksesan.

Mr Yanai lahir pada tahun 1949, anak dari seorang Penjahit. Ayahnya menjalankan usaha pembuatan Jas bagi pekerja kantoran di Jepang. Mr. Yanai memiliki visi yang berbeda mengenai Pakaian. Bagi beliau, pakaian kasual lebih memiliki pangsa pasar yang besar daripada pakaian Formal.

Berdasarkan data dari Forbes, Mr. Yanai adalah orang terkaya di Jepang saat ini melalui Saham yang dimilikinya pada perusahaan Fast Retailing. Berdasarkan visinya untuk menjadikan Fast Retailing sebuah perusahaan retail pakaian Nomor 1 di 2020 mendatang, maka beliau digambarkan akan terus menambah nilai kekayaannya.

“Kami sudah pada jalur yang tepat…. Kami memiliki Kemampuan untuk ini, tanpa Keraguan”, kata Mr. Yanai dengan penuh keyakinan.

“People are quite afraid of failure, so they don’t succeed”
“Banyak orang takut akan kegagalan, maka dari itu mereka tidak berhasil”

Ketika ditanya, kenapa tidak menargetkan pada peringkat kedua atau ketiga terbesar di dunia, Mr. Yanai menjawab: Tidak ada pilihan bagi seorang atlit Olimpiade untuk mengatakan Saya hanya cukup mengejar Medali Perunggu”

“Kami mau memberikan yang terbaik demi mendapatkan Medali Emas” tambahnya.

Spirit Combative Mr Yanai jelas terlihat pada pelebaran sayap Uniqlo secara agresif; tidak hanya di Asia, tetapi hingga ke pasar Eropa dan Amerika yang dulunya didominasi oleh perusahaan Barat seperti Inditex, perusahaan asal Spanyol seperti Zara dan H&M.

Setiap Minggu, ada 1 gerai Uniqlo baru yang dibuka di belahan dunia. Tetapi kali ini, mereka tidak lagi takut akan membuka cabang terlalu cepat seperti yang lalu. Bahkan 10 gerai Uniqlo di London yang dulunya pernah menjadi kegagalan terbesar bagi mereka, kini sudah menghasilkan keuntungan dan perkembangan yang baik.

Perkembangan pesat ekonomi di Asia merupakan salah satu pendorong perkembangan perusahaannya. Apa yang telah dilakukan di China, Dapat juga terjadi di Asia Tenggara. Uniqlo kini pun juga telah menjadi retail pakaian terbesar di China.

“I get the sense I am a tough boss” – “Saya merasakan bahwa saya adalah seorang Bos yang Kokoh”

Selain impian menjadi No. 1 di dunia, Mr. Yanai juga memiliki hal penting lainnya, yaitu “Mencari Penerus”. Mr. Yanai bukan hanya seorang Founder dan CEO dari Fast Retailing, namun beliau juga seorang President, Chairman, dan juga Pemilik. (Multi Role yang beliau deskripsikan sebagai “Menjadi yang Serba Bisa”)

Seorang boss yang memegang semua peran penting ini pun mengakui kegagalannya dalam mencari “Portege” yang tepat. “Saat ini, saya tidak memerlukan penerus yang seperti saya” katanya. “Pekerjaan seperti ini tidak dapat dikerjakan seorang diri. Maka dari itu, saya ingin membentuk sebuah Team untuk mendelegasikan pekerjaan ini, dimulai dengan seorang CEO yang tepat yang kemudian dapat mengatur operasional perusahaan ini.”

“Saya ingin segera melihat apakah team penerus ini dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Saya berharap mereka mampu mengambil posisi penting untuk melindungi kepentingan perusahaan.”

Simak video reviewnya di: https://www.youtube.com/watch?v=iHhYNBdynD8

Catatan tambahan:

Perusahaan Asia banyak yang berkembang pesat, namun tidak luput dari berbagai macam kegagalan. Mereka terus belajar dari setiap kegagalan, mempelajari perusahaan-perusahaan serupa lainnya yang sudah berhasil, mencari solusi dan terus mengembangkan perusahaan mereka hingga berada pada jalur yang tepat.

Ketika sudah kembali pada jalur yang tepat, bergerak dengan cepat dan penuh keyakinan adalah kunci perkembangannya perusahaan tersebut. Karena, kegagalan yang sama tidak akan terjadi kedua kalinya jika Anda benar-benar mengenal kegagalan tersebut.

Seseorang yang mampu mengisi berbagai posisi dalam karirnya, tentunya tetap membutuhkan dukungan dari team yang mengikuti “legacy” dari pimpinannya. Dengan demikian, fokus seorang leader pun dapat digunakan pada hal-hal yang lebih krusial dalam perusahaan.

Dalam hal menentukan target, tidak ada opsi untuk target yang pas-pasan, selalu tentukan di atas kemampuan kita. Perlu diingat kembali seorang atlit olimpiade tidak pernah menargetkan hanya untuk mengejar medali perunggu. Semua Atlit pada Olimpiade pasti menargetkan diri mereka untuk mengejar medali Emas, dan mereka akan melakukan yang terbaik untuk Target tersebut.

Akhir kata, Jangan pernah takut akan kegagalan. Lakukan apa yang Anda yakin Tepat. Jika Anda gagal, pelajari dan atasilah kegagalan tersebut. Dari berbagai kegagalan yang mungkin Anda temui, ADA 1 Kesuksesan yang menanti.

Cheers.

Regards,

Andi Wu

Build Upon Strengths, and Weaknesses Will Gradually Take Care of Themselves

Image source: VeryBestQuotes.com

At times, I Came to see the weaknesses in my business, in me, and also in my staffs; including everyone within my visibility. I tried and tried to overcome it and fix them, but there are no results. Some people say: Change yourself before you change others, the one need changes is you. You can’t change the world.

But then, everytime I look deeper into the problems, it gets harder and has no enlightment.

And so one day I came to think of this, Why would you bother with all the weaknesses, problems that are from the inside of the people? Think from this perspective instead: What can they deliver for you? What are their strenghts that you can derived from, take full advantage from, to reach your goal and target?

Perhaps this way, we can focus on growing up better and faster. Sometimes when thinking about growing up, I always thought of getting rid of all the bad habits, bad attitude, all the lacking of these people in order to move on. But seems it is not the way.

I will try injecting more positive attitude, more positive ideas, and focus on our strengths. Hopefully in 2015 we can excel better and improve way way further than the pasts.

Just like the quotes at top of this article: “Build Upon Strengths, and Weaknesses Will Gradually Take Care of Themselves”.

Just believe it, and Act upon it. For better 2015.

Under Management

Its been sometimes since I visited this particular cafe. So far I visited 4-5 times since its opening day. All I had most of the time was Japanese Kare and some refreshing drink. First time it was great, 2nd time was great as well, and so on. Then we no longer go there since there are lots of mosquitoes. You know, its Dumai. Town full of mosquitoes cos the neighbourhood is DIRTY and full of Trash!

So, been wandering where to have dinner today, decided to give some visit and contribute. Its now Air Conditioned, and lesser mosquitoes. But its very quiet. Saturday night? Something not right. So ordered my favs, things turn out to be watery, not like Kare (curry), but more towards curry taste soup. Very watery and less flavor. So, turn out I had dinner with white rice, very little gravy, and three slices of fried chicken.

Tak puas pun. Can’t fulfill my apettite. But I did not workout today, can’t eat more. So while eating, we did some look around check, and give our verdict.

Under management is one, Cook problem is one (not standardised), mosquitoes management, and perhaps some events or community involvement is not routines. Decoration was good, creative, feel comfy and nice. Apart from it, everything else is below par. Turn out operating a Cafe is not that easy. You need to understand the market more, and adjust to it. And bring in more communities and groups to have event in it, or some special priviledge to certain group of people.

Some thing to learn at least. Wish then good luck then.

Lessons Learnt from The Apprentice Asia

Well, this week, The Apprentice Asia has reached the 3rd episode, and I learnt a lot from few perspective: As a boss, As an employee, and As a team.

Apparently this is what we can learn from The Apprentice series. And for supervisor, you can learn the way the Tony Fernandes’s supervisors way of viewing things and analysing the staffs’ performances.

Third Episode, we learnt that choosing the right product that suits our personality and target market is very important. Like the Team Mavericks who had limited edition products and high end products, it shows that their target at Giant is a failure, but target at Sogo works out perfectly. But, it would be better if we can had both market as well, that is by managing the price and package for each target consumer. Like for Giant, perhaps they are more focus on how many units they can sell at a good value. Low selling price and good margin is what in their mind. That’s from what I see.

As per Sogo, their importance is the features and benefit of the products, and high margin. So, from the team mavericks who had limited edition rice cooker, the high end BenQ projectors and the cool folding bike, Team Mavericks can perform it really well to Sogo. And it caught their attention a lot.

Then as for the small markets chase, both team does not do as good, the girls made 150 phone calls, and only 10 approved for appointments, whilst the guys only go for 3 shops. Knowing the area really well is a must, and knowing where to go for such products is a matter of positioning the products.

Continue reading Lessons Learnt from The Apprentice Asia