Category Archives: Sales Articles

Story of an Astrada (Assisten Producer)

Thank God Its Friday,

Pernah gak kepikiran jadi sutrada atau jadi pemain film? Sebenarnya main film itu enak gak sih? Kelihatannya sih enak yah, bisa jadi terkenal, jadi celebrity, uangnya pun lumayan. Kebetulan saya ada mengikuti VLOG (Video Log) seorang stand up comedian sekaligus seorang Sutradara dan pemain film. RVLOG namanya, Raditya Dika’s Video Log.

Di RVLOG, direkam lah perjalanan sehari-hari Raditya Dika, Crews dan pemain-pemain film tersebut dalam menjalani proses Shooting Film dari hari pertama hingga hari terakhir. Ternyata oh ternyata, tidak mudah loh main film. Apa lagi jika hujan turun, proses shooting pun terpaksa dihentikan karena suara hujan dapat menganggu proses rekaman. Ada juga ketika adegan di jalanan, di mana banyak kendaraan lalu lalang, belum lagi ketemu sepeda motor yang dimodifikasi knalpotnya yang bikin bete ketika mendengarnya. Bagi pemain film, tentunya hal ini sangat menganggu proses produksi. Jadinya retake retake terus, sampai tidak ada suara knalpot yang menganggu proses rekaman.

Dalam rangkaian RVLOG tersebut, ada 1 kali di mana Astradanya (Asisten Sutradara) namanya Pame, menceritakan perjalanannya menjadi seorang Astrada. Sering di maki orang, di marah2, diteriakin, kerjanya juga teriak2, karena harus mengatur pemain-pemain film, crews, extras (pemain latar), dan semua alur produksi. Tapi profesi ini dia jalani dengan penuh Suka tanpa duka. Semuanya merupakan Suka bagi seorang Pame. Karena Pame tahu, setiap proses pasti ada kendala, pasti ada masalah. Dan pasti ada juga jalan keluarnya.

Pame menceritakan beberapa contoh, misalnya ketika mereka harus mengejar shooting scene pagi, di mana matahari segera terbenam dan langit pun menjadi gelap. Ini hal yang sering terjadi, tidak mungkin mereka harus menunggu besok harinya kembali untuk mengambil scene tersebut. Solusinya? Di buatlah pencahayaan dengan berbagai macam lighting agar scene tersebut menjadi siang hari ketika direkam oleh kamera.

Ada juga ketika scene yang mereka ambil di jalanan, di mana sangat rentan dengan gangguan suara, seperti suara knalpot, suara jangkrik, dan berbagainya. Maka mereka mencari solusi yaitu dengan mengambil scene secepat mungkin, mengambil take dengan potongan yang lebih kecil, sampai di mana jika keluar gangguan akan di cut, diretake kembali dari mana terakhir kali scene tersebut berhasil ditangkap. Nanti semuanya akan di sambungkan kembali di studio dan jadilah sebuah scene yang lengkap.

Kedengarannya cukup ribet yah, bahkan jadwal shooting bisa di luar dugaan. Misalnya mulai jam 12 Siang, diprediksi akan siap jam 12 malam, tetapi ketika masalah-masalah mulai muncul, jadwal hari tersebut bisa diperpanjang hingga semua terselesaikan. Seringnya selesai shooting jam 3 subuh, bahkan hingga jam 5 subuh sekalipun untuk menutupi target yang telah ditentukan untuk hari tersebut.

Nah, setelah membaca kisah seorang asisten sutradara di atas, seru gak pengalamannya? Sangat seru. Ketika proses shooting Film selesai, mereka akan mulai merindukan moment-moment kesibukan tersebut. Sama halnya dengan kita yang setiap hari tugasnya adalah menjual. Menjual jangan dijadikan beban, tetapi jadikan sebagai profesi yang Fun, setiap masalah dan penolakan dicari solusinya (salah satunya Sales Script by Dedy Budiman), ketika masalah sangat besar dan tidak teratasi lagi; pecahkan hingga beberapa pecahan kecil dan perbaiki satu per satu, sehingga akhirnya semua masalah pun terselesaikan.

Dari setiap profesi di luar sana, banyak pelajaran yang dapat kita petik dan kaitkan dengan profesi sales. Karena, sejatinya hampir setiap profesi adalah sales. Astrada dan Sutradara adalah sales yang menyiapkan film mereka dengan sesempurna mungkin yang layak ditonton oleh orang ramai dan mendapatkan review yang bagus dari pelanggan mereka. Profesi apa lagi nih yang bisa kita pelajari? Sharing pengalaman kamu yah di sini.

Regards,

Andi Wu

Play to Lose

Bermain Untuk Kalah

Pernah gak, suatu kali Anda cukup puas akan sebuah permainan, ingin mencoba pengalaman yang berbeda, dan mengumpulkan hal-hal yang belum didapat pada permainan tersebut? Gile Loe, Gak ada kerjaan yah? Bisa saja teman Anda mengatakan begitu kepada Anda. 🙂

Contoh pada game Android/iOS Clash Royale yang seperti permainan catur dan strategi perang, Jika Anda sudah main cukup lama, katakanlah sekarang sudah pada Arena 9 (1 arena lagi ke Arena terakhir), dan Anda belum mendapatkan “pasukan” yang Limited Edition pada Arena lainnya, gamenya gitu-gitu aja pada Arena 9 karena pasukan kita saat ini belum kuat.

Coba deh, turun Arena. Caranya turun Arena? Ya bermain untuk Kalah, baru Trophies Anda berkurang dan akhirnya turun Arena.

Tapi….

Bermain untuk kalah ini ternyata tidak secepat yang kita inginkan. Karena pihak lawan tidak tahu kita mau kalah, dan mereka tetap pada strategi pemikirannya yang benar-benar serius. Jadi, mau kalah pun harus pakai strategi.

Salah satu strategi, kita harus memulai lebih dulu. Kalau tidak, pihak lawan akan menunggu hingga waktu yang tepat untuk memulai. Bahkan ada yang rela menunggu sangat lama, menunggu lawannya bergerak terlebih dahulu. Karena pola pikir setiap orang yang berbeda, strategi yang berbeda, banyak sekali penemuan yang luar biasa pada saat “bermain untuk kalah” ini.

Sebagian lawan bergerak dengan hati-hati sekali, walaupun kita sudah mulai terlebih dahulu, dan ketika semua pasukan di arena sudah kosong, mereka kembali menunggu. Waduh ini orang taunya defence melulu, tidak berani memulai.

Ada yang ketika kita belum mulai sudah menyerang dengan gila nya. Dan kita biarkan saja dia menang. Dan mereka sungguh bahagia berhasil menang dengan mudah. Sedangkan dari sisi kita, yaahh kan gua sengaja mau kalah. Ingat, setiap kemenangan tidak berarti Anda sudah sukses dan selesai perjuangannya.

Ada kala kita ketemu juga teman seperjuangan, yang Visinya sama, yaitu bermain untuk kalah. Sama-sama gak mau gerak, saling memancing. Trus jika kita bergerak terlalu agresif, mereka langsung berhenti menyerang dan berterima kasih. Dan akhirnya kita gak jadi kalah deh.

Sungguh banyak pengalaman yang baru dan berbeda ketika kita bermain untuk kalah – melawan arus yang seharusnya. Tetapi tentunya kita dapat belajar banyak hal agar kita dapat maju lebih kencang lagi, semakin kuat dari segala sisi (team, strategy, timing, patience, persistence) dan memiliki sudut pandang yang berbeda.

Semoga sharing ini bermanfaat.

Salam Sukses,

Andi Wu

The Way of Selling – Xiao Mi

Well, since I wrote this article in Bahasa Indonesia for a community mailing list, we just let it be as that. Will find time to post more in English.


Image Source: soyacincau.com

Belakangan sering terdengar suatu merek baru Smartphone, namanya Xiao Mi, atau Mi sesuai logo pada smartphonenya. XiaoMi RedMi, XiaoMi Mi3, Powerbank XiaoMi, dan juga Tablet Xiaomi. Tetapi, adakah barangnya di toko-toko? Tidak. Bahkan belum masuk di Indonesia. Tetapi beritanya dan kabarnya pun terdengar sampai sini. Malah sempat ada beberapa supplier yang import sendiri, tetapi tidak banyak yang didapat.

Yang menarik dari cara jualan XiaoMi adalah pada teknik marketing dan selling mereka. Penawaran secara online order, jumlah unit ditentukan misalnya 100 unit, dan order di buka pada jam dan hari tertentu. Yang hebohnya, 100 unit biasanya habis dalam hitungan menit, dan mereka kemudian mengiklankan bahwa Order pertama 100 unit SOLD OUT dalam xx Menit.

Kemudian dalam selang beberapa hari, mereka akan melakukan hal yang sama, untuk produk lainnya, maupun produk yang sama dan kembali mengiklankan record waktu penjualannya. Kali ini jumlah unit akan di tingkatkan. Record baru pun kembali tercatat. Calon konsumen pun semakin menggila, melihat produknya begitu cepat terjual, pasti bagus dan tentunya memang MURAH. Dan semua orang pun berbondong-bondong mencari-cari kesempatan untuk ikut Order-Race dari XiaoMi ini.

Kemudian di masa yang lain, pihak XiaoMi pun memamerkan jumlah produk mereka dalam packaging, siap untuk dikirimkan ke pelanggan yang telah mengorder. Hal ini tentunya menambah adrenaline calon konsumen yang belum berhasil, maupun yang baru mengetahui adanya produk yang demikian.

Semakin sering kita lihat, semakin penasaran, dan semakin ingin mencoba ikut serta dalam Order-Race ini. Sayangnya XiaoMi belum tersedia di Indonesia, dan saat ini yang terdekat baru Singapura dan Malaysia. Packaging produk cukup simple dengan kotak polos Bulk tanpa banyak printing. Konsep Go Green, kesederhanaan dan juga dari sisi bisnis – low cost.

Tekniknya cukup unik, dan efektif. Karena unik dan efektif, beberapa kompetitor pun mulai meniru gaya tersebut, seperti Oppo Smartphone yang mulai membuat Online Store dan melakukan: Premium Pre-Order bagi produk Smartphone Terbaru mereka. Hari pertama, sold out. Dan diiklankan, walaupun tidak dalam hitungan menit. Selang beberapa hari kemudian, Oppo kembali melakukan Premium Pre-Order ke 2 dengan alasan: Karena tingginya minat konsumen Indonesia, kami menambahkan sesi preorder ke 2 pada tanggal xx. Kemudian keluar berita di sosial media: Website Pre-Order smartphone Oppo DOWN karena kebanjiran pengunjung dan order.

Salah satu teknik marketing yang mengena, mentargetkan Emosi dan Ego konsumen. Secara selling, menjual dengan struktur kuantitas dan waktu yang sudah direncanakan.

Apakah unik dan mengena bagi Anda jika menemui hal yang sama?

Setiap Konsumen Membutuhkan Perhatian Lebih


Image Credits: playbook.amanet.org

Ada satu pengalaman yang mengusik saya untuk membahas topik ini, yaitu kemarin saya kedatangan 1 keluarga customer – bapak, ibu, anak dengan membawa sebuah tablet terbungkus case. Mereka menginfokan kerusakan pada tablet tersebut, dan saya langsung mengeceknya dan memberikan analisa.

Setelah di tanya dan dicoba-coba, memang benar terjadi masalah pada port MicroUSB tempat chargingnya. Kemudian saya menanyakan apakah masih garansi? Masih, tetapi di tempat saya beli di tolak katanya tidak masuk kategori garansi. Terus saya terusik untuk mencoba membantu, menghubungi supplier yang saya kenal, dan sebenarnya masih ada harapan.

Setidaknya kita bisa mencoba mengirimkan ke service center untuk dipastikan dan jika garansi hangus pun, masih ada usaha untuk diperbaiki, setidaknya dengan sedikit tambahan biaya. Tetapi dengan menolak mentah2? Alhasil customer pun mencari pelarian di mana masih ada beberapa orang yang ingin mencoba membantu.

Jadi, saya memberikan 2 solusi kepada customer tersebut.

1. Kita coba kirim ke service center untuk di periksa lebih teliti lagi, apakah masih bisa di bantu garansi, atau setidaknya masih bisa di servis bebas biaya. Kalau garansi hangus, biaya perbaikan berapa kita konfirmasi kembali. Dan worst case scenario, walaupun tidak jadi diperbaiki, hanya rugi ongkos kirim Rp. 20.000. Kira-kira memakan waktu 1 minggu hingga 1 bulan tergantung antrian di Service Center.

2. Kalau gak mau menunggu, kita coba perbaikan oleh ahli perbaikan handphone, yaitu tetangga kita. Mereka khusus memperbaiki handphone, dan kadang-kadang tablet pun bisa diperbaiki.

Jawaban customer kalau pilih opsi 1: Tapi barang ini tidak saya beli di sini loh. Tidak apa-apa, service centernya kan sama. Dan kita bisa bantu.

Dan hati pun lega memberikan bantuan dan perhatian kepada customer yang bukan customer langsung, dan mungkin calon customer di masa yang akan datang. Walaupun mereka akhirnya tidak jadi karena tidak mau tunggu lama, akhirnya mencoba peruntungan di keahlian tetangga saya.

Sama halnya dengan kita sebagai dealer, kita membutuhkan perhatian lebih dari supplier kita maupun principal. Ketika tidak ada perhatian maupun follow up dari supplier, baik itu ada keluar produk baru, ada promo, atau ada informasi terbaru yang penting dan berguna, maka mungkin hati ini akan berpaling ke yang lebih memperhatikan kita.

Apakah Anda sudah memberikan perhatian lebih kepada customer Anda? Dealer Anda? Baik itu dengan Say Hi, Wish Birthday, dan dengan ikhlas membantu walaupun tidak beli dari kita?

And Thank God Its Friday.

Perbedaan Antara Marketing dan Sales

We often hear people argue about the position of Marketing and Sales. Some if you call them sales, they will deny and tell us that they are Marketing instead, not a sales. Sales in their mind is a person who go from house to house, walking around offering some goods. Sometimes they are annoying, and sometimes are suspicious. Those are the impression on sales person. That was the old days by the way.

The real sales is a profesion where someone is offering goods or services in any form and method for a purpose of selling. There are many kind of sales, like tele-sales, direct sales, online sales, sales at shop, and many more you can think of as long as their purpose is to sell; they are SALES. Then what is marketing? marketing is the mind behind sales. Marketing is the one who bring in customers, doing all the publicity and attention drawing jobs either through ads, promotion, newsletter and many more.

The picture below is quoted from KOMUNITAS SALES INDONESIA (KOMISI), A Comparison created by Mr. Galatia Chandra, for the purpose of telling what are sales and marketing were about. I hope with this, it will be clear in your mind, and do spread this article if you find it useful.


Click on the picture to see the larger version

Lessons Learnt from The Apprentice Asia

Well, this week, The Apprentice Asia has reached the 3rd episode, and I learnt a lot from few perspective: As a boss, As an employee, and As a team.

Apparently this is what we can learn from The Apprentice series. And for supervisor, you can learn the way the Tony Fernandes’s supervisors way of viewing things and analysing the staffs’ performances.

Third Episode, we learnt that choosing the right product that suits our personality and target market is very important. Like the Team Mavericks who had limited edition products and high end products, it shows that their target at Giant is a failure, but target at Sogo works out perfectly. But, it would be better if we can had both market as well, that is by managing the price and package for each target consumer. Like for Giant, perhaps they are more focus on how many units they can sell at a good value. Low selling price and good margin is what in their mind. That’s from what I see.

As per Sogo, their importance is the features and benefit of the products, and high margin. So, from the team mavericks who had limited edition rice cooker, the high end BenQ projectors and the cool folding bike, Team Mavericks can perform it really well to Sogo. And it caught their attention a lot.

Then as for the small markets chase, both team does not do as good, the girls made 150 phone calls, and only 10 approved for appointments, whilst the guys only go for 3 shops. Knowing the area really well is a must, and knowing where to go for such products is a matter of positioning the products.

Continue reading Lessons Learnt from The Apprentice Asia