Learning from The Coffee Experience

Be Sociable, Share!

Saya suka minum kopi. Segala macam kopi, dari espresso, tubruk, luwak, kopi instant, sampai kopi mewah di cafe2 khusus dengan cara penyajian yang berbeda.
Setiap hari saya akan minum minimum 1 gelas kopi hitam, max 2. Karena kalau sudah sampai gelas ke 3 itu berarti saya lembur (hanya berlaku pada jaman kuliah).

Kembalinya saya ke kampung kelahiran saya ini, kota Dumai di provinsi Riau, cukup membosankan. Tidak ada mall, starbucks ataupun JCo. Saya minum kopi bersama papa saya setiap sore ketika baru pulang dari Singapur untuk settle down.

Jadi, kebetulan papa saya ini hobi minum kopi juga, kopinya tidak terlalu tebal, 40% kopi induk, 60% air dan sedikit gula. Jadi saya pun ikut. Kami langganan pada 1 kedai kopi ini sejak lama. Tidak ada yg bisa saingi kopi buatannya. Walaupun serbuk kopi yang digunakan ada di kedai kopi lain.


Image Source: philips.co.id

Sejak saya ikut papa saya minum kopi, kopi saya mulai memiliki nama. Kopinya anak Agi (nama papa saya). Jadi kalau ngopi bareng teman, yang antarin kopi sudah tahu yang mana gelas yang utk saya. Saya pernah terdengar sang pembuat kopi memberikan nama per gelas kopi yang dipassing ke karyawannya. Ini kopi si A, ini si B, ini temannya yg duduk di pojok, dll.

Rupanya inilah keandalan kedai kopi ini. Setiap orang yang sering minum kopi di sana, dia hafal preferensinya, mau berapa tebal kopinya, mau manis atau nga, gula berapa sendok, pake gula biasa atau gula jagung? Semuanya di ingatnya dengan baik.

Karyawannya tinggal menyebut nama yang order atau menunjuk meja yang order ke bosnya, dan dia sudah tahu kopi macam apa yang harus diseduh.

Perfecfions dalam setiap cangkir kopi O ini sangat memuaskan. Bayangkan setelah capek bekerja, kita break dengan segelas kopi yang sempurna sesuai kesukaan kita. Dan jika kita ingin bertukar selera, contohnya saya mau kopi saya berubah menjadi gula cukup 1 sendok teh, hal tersebut lsg menjadi standard selanjutnya.

Dalam menjual produk atau memberikan sebuah jasa, di mana kita dapat membuat seorang customer kembali lagi dan lagi, kita juga harus mempertahankannya dengan mengingat nama customer tersebut, apa kesukaannya, pelayanan seperti apa yang mereka suka, biasanya mereka berurusan dengan siapa, dan segala detil yang kita ketahui dari seorang customer. Maka walaupun ada saingan yang menjual produk/jasa yang sama, sekalipun lebih murah, kita tidak akan kehilangan customer lama kita.

Why? Because I know what my customer need the most.



Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *